Gambar oleh Monica Volpin dari Pixabay

Tiba saatnya mobil bergerak perlahan, meninggalkan kota Bantaeng. Kami saling melambaikan tangan, sekilas saya melihat wajah Zaenab berubah ceria, tersenyum tanda hatinya senang, cantik sekali dia dalam pandanganku, menyebabkan jantungku makin berdetak lebih cepat..
Pagi itu baru pukul 6.05 wita, saya tidak langsung ke kantor, kudayung sepedaku ke rumah paman haris untuk latihan pagi meniup terompet seperti yang selalu saya lakukan. Namun kali ini rasa dalam hati tak menentu, rasa yang baru ini yang nantinya akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidupku.
Jam 14.00 wita, pulang dari kantor, terlihat sebuah bungkusan surat kabar tersimpan di bawah bantal tidur. saya segera membuka dan menerka apa gerangan di dalam bungkusan. Rupanya selembar kain khaki-drill untuk bahan sepasang pakaian dinas. Darimana asalnya belum kuketahui pasti, sebab bagian luar pembungkus tidak terlihat nama pengirim, namun setelah membuka lebar kainnya, tanpa sengaja saya menjatuhkan surat bersampul yg terselip di bagian tengah kain dan pengirimnya adalah….st.zaenab. Awalnya saya sudah dapat menduga rasa ini bukan hanya sepihak akhirnya terbukti dengan adanya surat dari dia.
Kutenangkan fikiran, sholat dhuhur, setelah itu, saya kunci kamar, saya buka sampul surat dan membaca:


Kak Am, Saya minta maaf, telah mengganggu ketenangan kakak.
Surat ini bersama bungkusan saya letakkan di bawah bantal kakak tadi pagi saat kakak sedang mandi, karena saya belum sanggup menyerahkannya sendiri.
Dengan surat ini pula, saya meminta maaf setulus-tulusnya kepada kakak atas sikapku selama ini. Saya tidak mampu memberi gambaran apa yang sebenarnya yang sedang berkecamuk di dalam hati ini, yang tiba-tiba muncul dan berkembang perlahan. Apakah rasa ini juga ada pada diri kakak..?
Terlampir sehelai bahan pakaian dinas sekedar kenang-kenangan dari saya.
Selamat Tinggal. Salam Hormatku.
Enab

Terbayang kembali wajahnya, wajah yg menampilkan senyum ceria di terminal bis pagi tadi, tatapannya seolah ingin mengungkapkan rasa, karena terpesona saya memandangnya balik…enab, kamu bertanya apakah saya juga merasakan itu..dan ya..rasa itu juga ada pada saya. Kita saling menyayangi dik………..
Seolah terayun dihempas gelombang, tiba-tiba kudengar pintu diketuk perlahan-lahan,tanpa sadar surat terlupa kusimpan dulu,langsung kubuka pintu, dan rupanya kak Sauna berdiri di ambang pintu menegurku: ‘belum makan siang…oooo..baca surat dulu..’ sambil tersenyum melihat surat Zaenab kupegang, dan membelakang pergi. Rupanya kak Sauna sudah tau adanya surat itu. Segera surat kusimpan dulu lalu bergegas ke meja untuk makan siang.
Sesudah makan, kembali ke kamar, kurebahkan diri, kubaca ulang surat Zaenab yang bagiku merupakan babak awal hubungan kami sebagai insan yang ketemu jodoh. Dan setelah beberapa lama diketahui kalau bukan rahasia lagi di dalam rumah gadang ini, semua kakak-kakak zaenab sudah mengetahui.
Saya kembali berfikir, mengapa rasa itu lahir diantara saya dengan Zaenab, justru dengan kondisi kami tinggal serumah, serumpun, akrab seperti saudara, sekian lama diasuh dan dididik oleh kakak Tju’la daeng Simba secara bersama-sama. Mengapa diantara kami tidak memilih untuk mencari dengan orang luar saja, dan rasa ini tak perlu hadir di antara kami…… Timbul kemudian rasa takut, rasa malu pada seisi rumah, pada teman-teman di Bantaeng…. Waduh, apa kata mereka kelak mengetahui hunbungan kami. Mau tak mau, saya dijuluki ‘pagar makan tanaman’, bagai mencoreng arang di kening…dan seterusnya…dan seterusnya… Inti dari keseluruhaan, nama baik kakak ipar Hakim karaeng Tompobulu, nama beliau termasuk tokoh pemerintahan yang dihormati dan di segani, demikian pula kakak sendiri Tju’la daeng Simba, salah seorang guru wanita yang cukup terpandang di Bantaeng, Ibunda Bimbi sebagai tokoh masyarakat yg berpengaruh keturunan bangsawan Bantaeng… tercemarkan dengan adanya Love-affair di dalam rumahnya sendiri.. Ya Allah..Ya Tuhan… pening kepalaku memikirkan akibat ke depannya… tapi ini sudah terjadi..mengapa..mengapa.. Bisakah dihentikan perasaan ini demi menjaga nama baik semua orang yg saya hormati? Semakin jauh saya menerawang, mengingat saudara kandung M. Saleh telah menikah dengan St. Halima, saudara kandung Zaenab. Mereka telah bertemu semasa M. Saleh masih tinggal di maros, sedang St. Halimah di Bantaeng. Nantinya akan ada dua pasang bersaudara ketemu jodoh dari dua belah pihak..
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00 Wita
Masih dalam keadaan terombang-ambing, kubangkit dari pembaringan, mengambil air wudhu kemudian sholat ashar, karena setelah sholat pikiranku akan jernih. Setelah sholat saya ke lapangan sepak bola u latihan. Malam harinya setelah sholat isya, kembali kuambil kegiatan rutin berlatih musik.
Hidup yang membujang di usia remaja sangat kunikmati, kujalani dengan mengisi hal-hal yang kusenangi. Sirnalah bayang-bayang akibat kegagalan melanjutkan sekolah dari hati dan jiwaku yg kualami sejak pendudukan Jepang. Semangatku tertempa oleh kegiatan-kegiatan dalam bidang olahraga, seni dan kepanduan. Di dalam kepanduan Hizbulwathan Bonthain saya pun di tunjuk sebagai peniup terompet berdampingan dengan dan Syamsuddin Misbah dan Nurdin Misbah, dua bersaudara, yang dalam setiap kegiatan tertentu misalnya Taptu keliling kota menyambut Lebaran, hari-hari besar.
Kebebasan-kebebasan cukup diberikan oleh saudara tua yang membimbing dengan penuh kasih sayang, melihat kegiatan-kegiatan yang kulakukan sejalan dengan pendidikan juga, dengan kata lain saya tidak terlibat pada kegiatan yang merusak moral seperti judi, minuman keras serta kenakalan-kenakalan yang merugikan lainnya, yang bisa menjerumuskan diri.
Di rumah, saya di sediakan kamar tidur khusus di bagian depan, berdampingan dengan kamar tamu, dilengkapi dengan ranjang besi kelambu kain tilai berhiaskan motif-kembang yang indah, beralaskan kasur, ditemani bantal-bantal, dilengkapi dengan sebuah rak pakaian dan meja-tulis. Saya mencoba memanfaatkan keahlian yang kumiliki dengan menambahkan asksesori pada pintu yg juga dapat kugunakan membuka pintu dari luar tanpa harus merepotkan orang dalam rumah jika ternyata saya harus pulang tengah malam dari kegiatan-kegiatan tambahan.
Pekerjaanku senagai pegawai, dimana sejak tahun1944, masih masa pendudukan Jepang masih dipekerjakaan sebagai pegawai magang di kantor Bonthain Ken Kanri kan atas bantuan kakak ipar hakim karaeng Tompobulu, kujalani dengan tekun dan penuh disiplin. Akhirnya tahun 1946, saya diangkat dengan surat keputusan sebagai “Bestuursschryver” (juru tulis pemerintahan) dihitung masa kerja 1944, dengan gaji f.15 (lima belas rupiah Belanda). Dengan gaji ini saya bias memenuhi kebutuhan hari-hariku, seperti rokok, kadang beli baju, sepatu, serta perlengkapan lain. Dengan demikian saya sudah bias mandiri, tidak tergantung dari pemberian kakak Tju’la Dg. Simba yang sekian lama selalu membelanjakan dalam hal-hal kecil seperti itu.
Bulan Purnama memancarkan cahayanya, terang benderang, tidak terlindung awan sedikitpun, seterang perasaanku melangkahkan kaki. Kuberjalan sendiri dengan santai, keadaan sekitar mulai sunyi, sekali-sekali maih kulihat ako’ dan ci’ masih duduk-duduk di depan toko mereka yang sudah separuh tertutup bercakap dengan bahasa leluhur mereka. Sambil mengingat kembali tiupan terompetku sewaktu melatih lagu “Di bawah Sinar Bulan Purnama”, kunikmati indahnya alam, sejuknya udara malam, perlahan pikiranku tertuju pada surat Zaenab.
Kuberniat akan menulis Surat bila sampai di rumah, membalas suratnya, menjawab keragu-raguannya, bahwa gelombang perasaannya itu tidak bertepuk sebelah tangan, karena gelomabng itu juga beriak di dadaku. Sesampai di rumah surat kutulis dengan lancar..


Adik Enab
Kenang-kenangan yang adik simpan sesaat sebelum berangkat beberapa hari yang lalu, telah kuterima, terima kasih banyak ya. Sangat bermanfaat bagi saya yang hanya punya beberapa pasang pakaian dinas. Demikian pula suratmu, sudah kubaca, dan semua telah kumahfumkan,walau adik meragukan hal itu, sebenarnya telah terjawab dengan balasan tatapan di terminal bis sebelum adik berangkat ke Makassar kemarin. Semua perasaan adik tidak bertepuk sebelah tangan… Kita saling menyayangi…dik..


Tanganku terhenti menulis, tiba-tiba teringat akan reaksi yang akan kami hadapi, apakah hal itu juga menjadi pemikiran bagi Zaenab? Apakah hal ini juga lebih baik kuungkap di dalam surat? Ah..Tidak perlulah saat ini, sepertinya akan membuat dia kecewa dan saya akan dianggap lemah.. Kuteruskan surat ini:
Kepergianmu ke Meisyes Normaalscool Makassar, merupakan awal hubungan batin kita, awal yang resmi, karena kita hanya mengikuti kehendak Yang Maha Kuasa. Seterusnya saya mendoakan apa yang adik jalani selama pendidikan berjaan sebagaimana mestinya. Insya Allah hubungan ini kita pelihara hingga terwujud cita-cita untuk hidup bersama.

Hormatku,
Am

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here