Photo by Kezia from Pinterest

Saat Zaenab kembali ke rumah, saya menanti surat jawaban. Namun sampai ia kembali ke Loka suratnya tidak kuterima. Kutanyakan pada Muin, apa ia menitip surat, Muin hanya mengangkat bahu sambil menggeleng kepala, pertanda tidak ada. Berarti ia sangat kesal sehingga tidak membalas surat dari saya. Saya menjelaskan keadaan yang ada dan meminta maaf, namun hal itu tidak dapat membuat dia untuk memberi putusan tentang keinginannya untuk meminta bantuan untuk kelengkapan sekolah. saya merasa gagal menjelaskan permasalahan yang bagi saya hal yang biasa. Sepertinya hal ini penting bagi dia sehingga sangat kecewa dan membuat saya merasa berbuat kesalahan yang besar dan sulit untuk dimaafkan…

Hari ke hari dia tidak pernah lagi meminta bantuan dari saya. Tidak pula menegur atau sekedar menyapa, akhirnya kami semakin jauh dan merenggang. Saya merasa seperti tersiksa jiwa dan raga.. kemudian timbul pertanyaan yg tak terjawab di benakku…mengapa….mengapa… Dia terlihat begitu tegas dalam membuat putusan, namun demikian saya melihat dibalik ketegasan itu terdapat hati yang lembut yang saya amati dalam penampilan dan sikapnya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak perlu larut memikirkan kemarahannya dan harus mengambil langkah pendekatan..

Suatu minggu pagi, dia duduk di lantai di depan lemari piring membersihkan piring-piring dan isi lemari lainnya, segera kudekati, duduk di lantai di dekatnya, lalu mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan “apa ada lagi yang perlu kubuatkan?” lalu dengn spontan dia menjawab “tidak ada lagi” tanpa senyum, dan ekspresi yang datar. Namun saya membalas bergurau “jangan marah-marah, nanti cepat tua”, ia jawab langsung “Buat apa marah, saya kan hanya ditolong,jadi harus tau diri” dengan nada yang agak meninggi. Saya melihat wajahnya berubah merah, agak menahan kesal rupanya. Saya langsung mendekat,”kamu lalu meminta secara langsung kalau ingin dibuatkan gambar tidak lewat surat, jadi saya juga bisa langsung mengerti jenis bantuannya. Kenapa sekarang harus lewat surat, saya jadinya lupa membaca. Apakah ada yang salah sebelumnya sehingga kamu harus tulis surat untuk dibuatkan kelengkapan sekolah?” Namun pertanyaanku tidak ditanggapi, sebaliknya ia berdiri dan beranjak pergi meninggalkan saya duduk di depan lemari termangu sendiri… Dari bagian dapur kudengar suara tertawa kecil, saya menoleh dan melihat kak Sauna dan Saadiah mentertawaiku, seolah melihat saya sebagai seorang petinju yang KO oleh lawan. Sambil tersipu malu saya meninggalkan ruangan itu dan keluar rumah menuju rumah Paman Haris untuk berlatih musik.

Waktu terus berjalan dan hubungan saya dengan Zaenab semakin merenggang, tidak ada lagi tegur sapa, terlebih pemintaan untuk pembuatan perlengkapan sekolah. Saat dia kembali dari Loka sabtu sore, dia tetap diam tanpa kata dan sikap yang dingin bagi saya hingga dia kembali lagi ke Loka. Saya mengendalikan diri namun kehabisan akal untuk mengembalikan keadaan menjadi normal kembali. Kakak-kakak yang melihat kami hanya menanggapi dengan senyuman dan berdehem. Saya merasa kedekatan kami sudah diketahui oleh seisi rumah termasuk oleh kak Tju’la daeng Simba dan Ibunda Bimbi. Namun mereka tetap bersikap bijaksana dan seolah mereka tidak mengetahuinya.

Pertanyaan yang berkecamuk di benak saya benarkah Zaenab demikian kesal terhadap saya sehingga melihat saya seperti musuh ataukah dibalik sikap yang bagi saya tidak bersahabat itu ternyata ia juga menyimpan rasa? Saya seperti yakin bahwa apa yang saya rasakan ini, dimana saat membayangkan wajahnya jantungku berdetak lebih cepat,dan suhu tubuh menghangat, demikin juga yang dirasakan Zaenab sehingga dia bersikap seolah menjaga jarak terhadapku. Kerenggangan ini adalah awal rasa di antara kami, dua remaja yang saling menyayangi. Bentuk dari peralihan masa remaja ke pendewasaan diri. Ini salah satu wujud kodrat Sang Pencipta yang dilimpahkan Nya kepada hamba Nya.

Suasana perang dunia kedua telah berakhir. Masa kemerdekaan hasil proklamasi 17 Agustus 1945 dimana pemerintah RI belum dapat menguasai seluruh wilayah Nusantara secara de jure dan de facto, dan dengan adanya perundingan perdamaian di sana sini, maka Sulawesi Selatan kembali dikuasai oleh Belanda dengan predikat Pemerintah KONICA (Koninklyke Nederlands Indise Civil Administration) dengan mendudukkan orang-orang Indonesia yang pro-Belanda pada jabatan penting.

Dalam masa itu pada tahun 1946 untuk perputaran roda pemerintahan, akan di buka sekolah guru putri yang bernama Meisjes Normaal School di Makassaar. Dengan restu Ibu Bimbi dan kak Tju’la daeng Simba akhirnya kak Saadiah dan Zaenab melanjutkan pendidikan ke sekolah tersebut. Pada mulanya Ibunda Bimbi belum menyetujui kepergian keduanya mengingat suasana tahun 1946 ini masih pergolakan, masih terjadi pertempuran-pertempuran antara gerilya Sulawesi Selatan melawan tentara Knil-Konica. Namun kak Tju’la daeng Simba memberi pertimbangan dari segi pendidikan di masa depan bagi keduanya serta nasehat kakak ipar Hakim Karaeng Tompobulu I bahwa hidup dan mati seseorang tidak dapat dipastikan semuanya diserahkan dalam kekuasaan Allah SWT. Akhirnya mereka berdua diberi restu untuk berangkat.

Saat mereka akan berangkat, mereka berjabat tangan dengan seisi rumah dan saling berpelukan, penuh haru, air mata, namun Zaenab tetap enggan menjabat dan menyapa saya. Saya berusahamenyapa lebih dahulu, saya mendekati, menjabat tangannya, kugenggam erat tangannya sambil berucap “selamat jalan ya” dengan suara yg agak parau. Akhirnya Zaenab mengangkat wajahnya dan menatap langsung, matanya terlihat merah, bibirnya merapat dan tak sanggup berkata-kata lagi ia berlalu. Seolah setiap mereka yang ada di rumah itu memperhatikan kami, walaupun mereka terlihat seolah acuh namun mereka ikut merasakan perpisahan kami berdua. Kudengar mereka tersenyum simpul seakan mengerti suara hati kami.

Saya mengantar mereka ke terminal bis angkutan perusahaan CETRAM (Celebes Transport Maastschapy) Cabang Bantaeng, yang akan mereka tumpangi pagi itu ke Makassar. CETRAM ini adalah perusahaan yang sudah ada di jaman pemerintahan Belanda, yang operasinya terhenti pada waktu pendudukan Jepang, dan setelah situasi berubah, bangkit kembali melanjutkan usahanya, dan tugas utamanya adalah membawa benda pos (surat,telegraaf & telefoon kantoor) untuk kota Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Sungguminasa dan Makassar. Di perbatasan Jeneponto, Takalar, Sungguminasa mobil CETRAM mendapat pengawalan dari tentara Knil atau polisi, demi menjaga keselamatan benda-benda pos yang diangkut. Zaenab naik dan memilih tempat duduk deret kedua tepat di blakang supir. Saat ia sudah duduk di mobil, ia menatap lurus ke saya,lama dan tidak terucap sepatah kata. Saya pun menatap dia dengan sekali-sekali mengalihkan ke arah penumpang yg naik. Saling menatap menggantikan beribu kata yg ingin kami ucapkan. Kak Saadiah memperhatikan keadaan ini, menengahi dengan berkata “Thalib, janganlah lupa kami, kirim-kirim surat dik, atau bila ke Makassar, jenguk-jenguklah kami di Internaat (asrama) sekolah”. Saya balik menjawab “ Insya Allah kak”, sambil melirik ke Zaenab yang masih tetap menatap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here