Home Biography Seutas Benang Cinta by Siga (1)

Seutas Benang Cinta by Siga (1)

MEISJES NORMAALSCHOOL MAKASSAR 1943

216
0
de Meisjes-Normaalschool, vermoedelijk te Fort de Kock
Digital Collection Universiteit Leiden

1. KE MEISJES NORMAALSCHOOL MAKASSAR


Kisah ini bermula pada masa pendudukan Jepang tahun 1943, saya diopname (rawat-nginap) di rumah sakit Bantaeng, di bawah baenhandeling dokter Husain Suramulia untuk luka berat pada kaki akibat cedera sepak bola. Saya diopname lebih kurang 3 bulan karena obat pada saat itu sangat susah, dan menurut dokter, luka dikaki sudah infeksi dan tidak dapat disembuhkan jika berobat jalan. Dan karena luka itu membuat saya tidak lulus dalam tes pendidikan Sihan Gakko di Makassar saat itu.

Dari rumah pengungsian di kampung Kalimbaung (Bantaeng, Sul-Sel) kakak selalu mengirim makanan sekali sehari, diantar oleh keponakan saya, Muin. Jika Muin berhalangan, makanan diantar oleh Zaenab,yang kadang-kadang naik dokar atau jalan kaki sejarak 3 kilometer dari rumah pengungsian di Kalimbaung ke Rumah Sakit.


Sitti Zaenab termasuk salah seorang keluarga yg diasuh, disekolahkan oleh kakak saya. Zaenab adalah adik sepupu dari kakak saya Tju’la daeng Simba. Ayah Zaenab, Manggaribi merupakan saudara kandung dengan Kak bima daeng Bimbi, ibu kandung kak Tju’la daeng Simba. Zaenab dan 3 saudaranya, St.Sauna tertua, St. Halima, dan St. Saadiah, tinggal bersama dalam keluarga kak Tju’la karena kedua orang tua Zaenab, Mangngaribi dan Isa (ibunya) layaknya orang tua jaman dulu yg tidak mengecap pendidikan. Ibunda Bimbi berinisiatif untuk mengambil keponakan-keponakan, mengasuh dan mendidiknya dengan bimbingan kakak saya Tju’la daeng Simba yang merupakan guru perempuan pertama, lulus dari Normaalschool zaman Belanda di Sulawesi Selatan saat itu. Beliau menjadi tumpuan harapan menghadapi jaman kemajuan di kalangan keluarga.


Mengapa saya hadir di tengah-tengah mereka? Saya meninggalkan Orang Tua di Makassar yang menginginkan saya untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 1941 pada bidang yg sama sekali bukan bakat saya. Untuk menyatakan bahwa saya tidak ingin melanjutkan pada ilmu pendidikan yg tidak saya senangi, saya tidak akan mampu menjelaskan hal itu pada Ayah saya. Hal ini karena Ayah saya sangat tegas dalam segala hal dan akan sangat sangat sulit untuk beradu argumen tentang keinginan saya. Maka jalan yang saya pilih dari rumah dan menggabungkan diri dengan saudara seayah yaitu kak Tju’la daeng Simba. Kehadiran saya disambut dengan senang hati oleh beliau yg sejak lama berkeinginan untuk mendidik saya, selagi masih di sekolah rendah (dasar) Maros.

Demikianlah kami semua berkumpul dalam satu atap,akrab seperti saudara, dan juga dengan adanya Muin yang merupakan cucu Ibunda Bimbi dari rumpun keluarga Tanaberu-Bulukumba, yang sejak kecil sudah diasuh dan disekolahkan di Bantaeng atas penyerahan orang tuanya.


Hingga pada suatu sore, Zaenab mengantarkan makan malam seperti biasanya. Pertanyaan yang selalu kulontarkan kepadanya: “mana Muin? kenapa kamu yang mengantar makanan?” Dia selalu menjawab: Muin sementara kerja yang lain “…… atau “Muin belum pulang ke rumah”…dsb. Dia menjawab sambil menundukkan kepala, enggan rupanya menatap muka saya. Saya maklumi sikapnya karena melihat usianya yang baru menginjak 14 tahun dimana malu menatap lawan jenis.

Kami tidak bercakap panjang lebar, dia hanya menaruh rantang di meja dan membelakang pergi, tanpa ada kata untuk pamit pulang.

Dan Perasaan saya masih biasa-biasa saja.

Akhirnya saya diperbolehkan pulang, pengobatan kaki saya sudah dinyatakan sembuh oleh dr. Husain Suramulia.
Kehiduapan sehari-hari di pengungsian berjalan seperti biasa.

Perang Asia Timur Raya yang disuarakan oleh Jepang sebagai saudara-tua bangsa Asia masih berkecamuk, dan Jepang tidak pernah mengaku kalah, dan harus menang. Kamipun percaya karena kota Bantaeng belum pernah diserang musuh selama itu, walaupun pesawat-pesawat B29 Sekutu Amerika Serikat cs hampir setiap malam terlihat di udara kota, namun tidak melakukan serangan.


Tahun 1944 pemerintah Jepang memerintahkan penduduk yang mengungsi untuk kembali ke rumah masing-masing. Kami segera kembali ke kota, kembali ke rumah di Kampung Baru Tappanjeng dan hidup normal kembali.

Tapi karena perang belum berakhir, kakak ipar, suami kak Tju’la daeng Simba, Hakim Tompobulu tetap mengingatkan kami supaya tetap waspada, menjaga segala kemungkinan untuk menyingkir kembali. Untuk itu bungkusan-bungkusan pakaian harus siap angkut bila keadaan genting.

Sitti Zaenab yang sejak 1943 memasuki pendidikan CVO (Cursus Voor Volksonderwyzer), menginjak awal tahun 1945 dinyatakan tammat, berstatus calon guru, kemudian ditempatkan mengajar di Kampung Panaikang, 4km dari kota Bantaeng, ke arah Makassar. Beberapa bulan kemudian, Ia dipindahkan ke sekolah dasar di Kampung Loka, kampung yang berada di atas pegunungan, puluhan kilometer dari Bantaeng. Perpindahan tersebut dijalani Zaenab dengan patuh. Dengan dokar separuh jalan, setengah hari perjalanan, penuh pendakian, tidak melunturkan semangatnya sebagai guru.

Saat mengajar di Panaikang memungkinkan ia pergi pulang setiap hari, namun tugas baru di Loka mengharuskan Ia untuk tinggal, dan hanya pulang ke rumah setiap sabtu sore lalu Minggu pagi kembali lagi ke Loka. Tapi hal ini tidak menjadi hambatan berkat hubungan baik kakak ipar, Karaeng Tompobulu dengan Kepala Kampung Loka dan segenap aparat pemerintahan, sehingga Zaenab juga mendapat fasilitas walaupun tergolong standar.

Saya, sejak tahun 1944 dalam status menganggur, kakak ipar memasukkan saya bekerja di kantor Bonthain Ken Kanrikan (Kantor Bupati), dengan status magang. Tujuannya untuk mengarahkan saya pada kegiatan tertentu. Di samping itu saya juga memanfaatkan waktu luang dengan belajar musik pada paman Haris, serta kegiatan olah raga, khususnya Sepak Bola yang menjadikan saya pemain Bond di bawah didikan Baba’ Tan Siang Khe ahli Sepak Bola.

Dari hari ke hari loyalitas Zaenab pada tugasnya semakin terlihat. Dia mulai memberi perhatian pada kondisi ruangan kelasnya yang masih memprihatinkan, baru berisi sejumlah bangku untuk murid, seperangkat meja guru dan papan tulis. Pada dinding sekitar ruangan kelas belum dilengkapi dengan gambar-gambar dan peta bahan ajar sebagaimana layaknya sebuah kelas yang mempunyai sarana lengkap . Pengadaan gambar menjadi bahan pikiran untuk diupayakan oleh Zaenab, sementara menunggu kunjungan inspeksi dari schoolopziener atau komisi sekolah ke tempatnya.

Dalam hal ini Zaenab tahu bahwa saya memiliki sedikit kepandaian melukis yang dia amati saat saya membantu membuatkan kak Tju’la daeng Simba, kak St. Halima serta kak St. Saadiah lukisan yang dugunakan untuk kelengkapan sekolah mereka. Zaenab kemudian menghubungi saya untuk membuat letter etiket untuk buku-buku persediaan, batas pengajaran, register murid, dsb.


Pada mulanya hubungan kami berjalan biasa-biasa saja, berjalan normal. Permintaannya untuk kelengkapan sekolah dan belajar mengajar pasti saya buatkan tanpa ada permainan rasa dan hati. Namun, seiring berjalannya waktu tanpa disadari, di dalam hati muncul rasa yang tidak biasa, perlahan hal itu juga terlihat dari salah tingkah yang di tunjukkan Zaenab. Terlebih saat bertemu pandang, serasa denyut jantung saya berdetak lebih cepat. Tapi rasa ini tersimpan hanya untukku.


Perubahan pada Zaenab juga mulai nampak, dia tidak lagi meminta langsung jika ingin dibuatkan sesuatu melainkan melalui surat –surat pendek dan meminta Muin untuk mengantarkan. Suatu hari dia kembali meminta tolong melalui surat namun saya terlupa untuk membacanya karena sibuk dengan kegiatan sepakbola untuk mengikuti pertandingan. Karena lama tidak ada tanggapan dari saya tentang surat yang dia tulis, kemudian dia mengirim lagi surat pendek yang isinya membatalkan permintaan gambar yang dia harapkan yang dia tulis pada surat sebelumnya.

Seperti tersentak membaca surat itu, dia membatalkan permintaannya tanpa mengingatkan saya atau sekedar menanyakan mengapa saya belum menyelesaikan permintaan dia. sesaat kemudian saya berpikir apakah permintaannya tetap kukerjakan sekalipun dia membatalkan atau tidak kukerjakan saja, atau kubalas saja suratnya memberi penjelasan. Akhirnya kuputuskan untuk melakukan yg terakhir, menulis surat kembali untuk menjelaskan keadaan sebenarnya.

Enab…
Saya sangat terkejut, karena kamu membatalkan permintaanmu.
Saya sementara ini fokus latihan sepak bola sehingga apa yang kau minta belum sempat saya kerjakan.
Saya minta maaf, untuk selanjutnya, saya minta jawabanmu apakah permintaanmu
Masih tetap saya kerjakan atau tetap dibatalkan….

Sesudah membaca berulang-ulang, kusampul suratku dengan rapi, lalu meminta tolong Muin untuk menyerahkan nanti bila dia tiba dari Loka. Muin menerima surat itu dengan senyum sambil berdehem, saya hanya menanggapi dengan senyum simpul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here